1.History of Lombok

History of Lombok

Little is known about the Lombok before the seventeenth century. Before this time it was made up of numerous competing and feuding petty states each of which were presided over by a Sasak ‘prince’. This disunity was taken advantage of by the neighbouring Balinese who took control of western Lombok in the early seventeenth century. The Makassarese meanwhile invaded eastern Lombok from their colonies in neighbouring Sumbawa. The Dutch had first visited Lombok in 1674 and the Dutch East India Company concluded its first treaty with the Sasak Princess of Lombok. The Balinese had managed to take over the whole island by 1750, but Balinese infighting resulted in the island being split into four feuding Balinese kingdoms. In 1838, the Mataram kingdom brought its rivals under control.

Relations between the Sasak and Balinese in western Lombok were largely harmonious and intermarriage was common. In the island’s east, however, relations were less cordial and the Balinese maintained control from garrisoned forts. While Sasak village government remained in place, the village head became little more than a tax collector for the Balinese. Villagers became a kind of serf and Sasak aristocracy lost much of its power and land holdings.

Dutch intervention in Lombok and Karangasem against the Balinese in 1894.

During one of the many Sasak peasant rebellions against the Balinese, Sasak chiefs sent envoys to the Dutch in Bali and invited them to rule Lombok. In June 1894, the governor general of the Dutch East Indies, Van der Wijck, signed a treaty with Sasak rebels in eastern Lombok. He sent a large army to Lombok and the Balinese raja capitulated to Dutch demands.(see Dutch intervention in Lombok) The younger princes however overruled the raja and attacked and routed the Dutch. The Dutch counterattacked overrunning Mataram and the raja surrendered. The entire island was annexed to the Netherlands East Indies in 1895. The Dutch ruled over Lombok’s 500,000 people with a force of no more than 250 by cultivating the support of the Balinese and Sasak aristocracy. While the period was one of deprivation for the Sasak, they Dutch are remembered as liberators from Balinese hegemony.

Following Indonesian independence from the Dutch, the Balinese and Sasak aristocracy continued to dominate Lombok. In 1958, the island was incorporated into the province of West Nusa Tenggara with Mataram becoming the provincial capital. Mass killings of communists occurred across the island following the abortive coup attempt in Jakarta and Central Java. During President Suharto‘s New Order administration, Lombok experienced a degree of stability and development but not to the extent of the boom and wealth in Java and Bali. Crop failures led to famine in 1966 and food shortages in 1973. The national government’s transmigrasi program moved a lot of people out of Lombok. The 1980s saw external developers and speculators instigate a nascent tourism boom although local’s share of earnings was limited. Indonesia’s political and economic crises of the late 1990s hit Lombok hard. In January 2000, riots broke out across Mataram with Christians and ethnic Chinese the main victims, with alleged agents provocateurs from outside Lombok. Tourism slumped, but in recent years has seen a renewed growth.

______________________________________

Sejarah

Sedikit yang diketahui tentang Lombok sebelum abad ke tujuh belas. Sebelum kali ini terdiri dari banyak bersaing dan bermusuhan masing-masing negara-negara kecil yang dipimpin oleh ‘pangeran’ a Sasak. perpecahan ini dimanfaatkan oleh orang Bali tetangga yang mengambil alih Lombok Barat pada awal abad ketujuh belas. The Makassar Sementara itu menyerang Lombok Timur dari tanah jajahan mereka di negara jiran Sumbawa. Belanda pertama kali melawat Lombok pada 1674 dan Syarikat India Timur Belanda menyimpulkan perjanjian pertama dengan Puteri Sasak Lombok. Orang Bali berjaya mengambil alih seluruh pulau dengan 1750, namun pertikaian Bali menyebabkan pulau yang dibahagikan kepada empat bermusuhan kerajaan Bali. Pada 1838, kerajaan Mataram membawa para pesaingnya di bawah kawalan.
Hubungan antara Sasak dan Bali di Lombok Barat sebahagian besar yang harmoni dan perkahwinan adalah perkara biasa. Di pulau timur, bagaimanapun, hubungan yang kurang ramah dan kawalan dipelihara Bali dari benteng garrisoned. Sementara kerajaan desa Sasak tetap berada di tempatnya, kepala desa menjadi sedikit lebih dari seorang pemungut cukai untuk Bali. Penduduk desa menjadi semacam budak belian dan Premier Sasak kehilangan banyak kuasa dan pemilikan tanah.
Belanda campur tangan di Lombok dan Karangasem terhadap Bali pada tahun 1894.
Dalam salah satu petani banyak pemberontakan Sasak terhadap Bali, ketua suku Sasak menghantar utusan ke Belanda di Bali dan mengundang mereka untuk memerintah Lombok. Pada bulan Jun 1894, gabenor jeneral Hindia Belanda, Van der Wijck, menandatangani perjanjian dengan pemberontak Sasak di Lombok Timur. Dia menghantar pasukan besar ke Lombok dan Bali raja menyerah kepada tuntutan Belanda (lihat campur tangan Belanda di Lombok) Para pangeran muda namun ditolak raja dan menyerang dan mengalahkan Belanda .. Serangan balasan Belanda menduduki dan raja Mataram menyerah. Seluruh pulau ruang tambahan ke Hindia Belanda pada tahun 1895. Belanda memerintah atas 500,000 orang Lombok dengan kekuatan tidak lebih dari 250 dengan mengolah sokongan dari Bali dan Premier Sasak. Sementara tempoh adalah salah satu kekurangan untuk Sasak, mereka Belanda dikenang sebagai pembebas daripada hegemoni Bali.
Selepas kemerdekaan Indonesia dari Belanda, Bali dan Premier Sasak terus mendominasi Lombok. Pada tahun 1958, pulau ini dimasukkan ke dalam Wilayah Nusa Tenggara Barat dengan Mataram menjadi ibu kota provinsi. pembunuhan beramai-ramai komunis berlaku di pulau selepas usaha rampasan kuasa yang gagal di Jakarta dan Jawa Tengah. Selama Presiden Suharto pemerintahan Orde Baru, Lombok mengalami tahap kestabilan dan pembangunan tetapi tidak sejauh dari letupan dan kekayaan di Jawa dan Bali. Tanaman kegagalan menyebabkan kelaparan pada tahun 1966 dan kekurangan pangan pada tahun 1973. Program transmigrasi pemerintah nasional pindah banyak orang keluar dari Lombok. Tahun 1980-an melihat pemaju luaran dan spekulan menghasut booming pelancongan baru lahir walaupun saham tempatan keuntungan terhad. Indonesia krisis politik dan ekonomi pada akhir tahun 1990an Lombok memukul keras. Pada bulan Januari 2000, rusuhan di seluruh Kuala Lumpur dengan Kristian dan etnik Cina korban utama, dengan agen yang diduga provokator dari luar Lombok. Pelancongan merosot, tapi dalam beberapa tahun terakhir telah melihat pertumbuhan yang baru.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s